Visualized

Pernah kah Anda bepergian ke suatu tempat?

Saat kenalan Anda tau Anda sedang bepergian ke suatu tempat, apakah kenalan Anda minta dibawakan oleh-oleh?

Seringkali, Ya. Dan bagaimana tanggapan Anda? Cuek? Mengiyakan?

Awalnya saya pernah bersikap seperti itu. Minta oleh-oleh saat tau ada teman yang berangkat ke daerah/negara lain. Tapi, sikap seperti itu tidak berlangsung lama. Karena ada teman yang menyadarkan saya.

Begini ceritanya…

Pada tahun 2006, ada seorang teman yang berangkat ke London. Ya, teman itu berangkat ke London untuk jalan-jalan. Bukan urusan negara, bukan pula tujuan sekolah. Saat tau ada teman yang mau ke luar negeri, saya juga ikut bahagia dan sukacita (padahal yang berangkat orang). Terucap lah kata-kata “oleh-oleh” tersebut. Waktu itu ekspresi teman saya biasa saja, dia hanya tersenyum. Saya juga tersenyum karena yakin akan dibawakan oleh-oleh.. (dari London loh…).

Singkat cerita, setelah 1 bulan di Inggris, teman saya datang. Dia pun datang ke kantor untuk membagikan oleh-oleh kepada kami. Usai pembagian oleh-oleh, dan saat jumlah orang sudah mulai berkurang, dia pun memulai bercerita tentang pengalaman satu bulannya di London, mulai dari cerita tentang alamnya, orang-orangnya, sampai budayanya.

Semuanya diceritakan sambil kami melihat foto-foto digital dari perjalanannya melalui layar komputer. Sampai pada akhirnya, dia cerita tentang budaya orang setempat. Cerita ini lah yang akhirnya menampar muka saya sekaligus menyadarkan saya. Sungguh.. saya bersyukur atas apa yang diceritakan teman ini.

Salah satu budaya orang Inggris adalah tidak meminta oleh-oleh saat tau ada kenalan yang berangkat entah kemana pun itu. Teman saya menceritakan bahwa ‘oleh-oleh’ merupakan hak orang yang melakukan perjalanan. Bagaimana kalo kenalan yang berangkat itu bawa uang pas-pasan? Tentunya uang sudah dialokasikan untuk kebutuhan utama saat perjalanan. Nah, kalo teman-teman di Kampung Halaman sudah mewanti-wanti minta oleh-oleh, tentunya hal ini akan memberatkan orang yang berangkat.

Bukan kah akan menjadi beban jika kita minta bawakan oleh-oleh? Teman yang berangkat kan harus mikirin oleh-oleh yang pas dengan harga yang pas supaya tidak mengecewakan? Atau mungkin ada teman yang sudah menentukan bentuk oleh-olehnya. Bagaimana jika pesanan tersebut tidak ada?

Nah.. semenjak saya mendapat pelajaran itu, saya tersadar tentang budaya oleh-oleh. Memang, sebelum 2006 itu saya tidak pernah ke luar pulau, apalagi ke luar negeri. Jadi saya belum pernah di minta oleh-oleh oleh siapapun. Makanya, saya tidak pernah sadar dengan ketidaknyamanan permintaan oleh-oleh.


To Tumblr, Love PixelUnion

We're updating Fluid!

Soon, we'll be updating the look and feel of this theme. Read about the changes here. You can easily turn off this notification in the theme customization panel.

Close